Minggu, 28 Juli 2013

Seksdukasi yang Benar Cegah Remaja dari PMS



Beredarnya video porno yang dilakukan remaja belakangan membuat masyarakat seakan tak percaya bahwa remaja Indonesia bisa melakukan hal seperti itu. Padahal, seks bebas, begitu masyarakat menyebutnya, sangat beresiko bagi kesehatan. Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju ke dewasa. Dimasa ini terjadi perubahan hormon yang diikuti dengan perubahan ciri seks sekunder. Pada perempuan, payudara mulai tumbuh, badan mulai terbentuk, pinggul membesar, dan menstruasi (matang secara reproduksi). Sedangkan pada laki-laki seperti tumbuh kumis, suara berubah, dll. Perubahan tersebut terjadi secara alamiah, begitu pula dengan naluri seksual yang hadir sebagai makhluk seksual yang berkembang biak secara seksual.

Hasil penelitian Bagian Reproduksi FK Unair bersama dengan Unicef mengatakan bahwa pada kelompok usia 18 – 21 tahun di Surabaya, 9 % remaja perempuan dan 16 % laki-laki telah melakukan hubungan seksual. Pergeseran usia ini dipengaruhi oleh pergeseran nilai sosial, moral, pergaulan, dan perkembangan informasi teknologi. ”Remaja kemudian mencontoh perilaku yang menurut mereka fun, tapi mereka tidak tahu resikonya,” tutur dr. Dyan Pramesti, M.Kes, SpAnd dari RSU Dr. Soetomo Surabaya. Disinilah pentingnya seksdukasi (pendidikan seks) yang benar, agar remaja memahami kondisi fisik dan psikis mereka.

Dengan pendidikan tentang reproduksi dan seks yang benar, diharapkan remaja bisa mencegah resiko dari hubungan seksual yang dilakukan. Menurut dr. Dyan, remaja sebaiknya memiliki cara berpikir dan prinsip bahwa mereka tahu apa yang mereka lakukan dan mereka memang mau melakukan dengan kesadaran penuh. ”Artinya kalau dilakukan dengan sengaja berarti mereka tahu resikonya, yakni terkena penyakit menular seksual, atau mereka yang perempuan mungkin bisa hamil,” tegas dokter yang lahir pada 4 Oktober 1965 ini. Hamil dan aborsi adalah isu yang diajarkan pada pendidikan seks remaja. Remaja yang pernah melakukan hubungan seksual cenderung mencari solusi sendiri dan bukan pergi ke dokter. Perilaku untuk mencari pengobatannya (treatment seeking behaviour) yang buruk ini membuat angka kejadian Penyakit Menular Seksual (PMS) pada usia remaja meningkat.

Orang tua juga memiliki peran penting untuk mendidik anaknya melalui wawasan, informasi mengenai seksual. “Menurut saya sudah waktunya seks edukasi masuk di sekolah, orang tua juga perlu diberikan seks edukasi. Harapan saya di sekolah ada sesi khusus  untuk orang tua sendiri. Meski tak masuk dalam kurikulum inti bisa menjadi muatan lokal,” ujar dr. Dyan.Tika

 

Baca Sebelumnya


e-NEWSLETTER Masukkan e-mail untuk mendapatkan informasi terbaru dari klikdokter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar