Beredarnya
video porno yang dilakukan remaja belakangan membuat masyarakat
seakan tak percaya bahwa remaja Indonesia bisa melakukan hal seperti
itu. Padahal, seks bebas, begitu masyarakat menyebutnya, sangat
beresiko bagi kesehatan. Masa remaja adalah masa transisi dari
anak-anak menuju ke dewasa. Dimasa ini terjadi perubahan hormon yang
diikuti dengan perubahan ciri seks sekunder. Pada perempuan, payudara
mulai tumbuh, badan mulai terbentuk, pinggul membesar, dan menstruasi
(matang secara reproduksi). Sedangkan pada laki-laki seperti tumbuh
kumis, suara berubah, dll. Perubahan tersebut terjadi secara alamiah,
begitu pula dengan naluri seksual yang hadir sebagai makhluk seksual
yang berkembang biak secara seksual.
Hasil penelitian Bagian Reproduksi FK Unair bersama
dengan Unicef mengatakan bahwa pada kelompok usia 18 – 21 tahun di
Surabaya, 9 % remaja perempuan dan 16 % laki-laki telah melakukan
hubungan seksual. Pergeseran usia ini dipengaruhi oleh pergeseran
nilai sosial, moral, pergaulan, dan perkembangan informasi teknologi.
”Remaja kemudian mencontoh perilaku yang menurut mereka fun,
tapi mereka tidak tahu resikonya,” tutur dr. Dyan Pramesti, M.Kes,
SpAnd dari RSU Dr. Soetomo Surabaya. Disinilah pentingnya seksdukasi
(pendidikan seks) yang benar, agar remaja memahami kondisi fisik dan
psikis mereka.
Dengan pendidikan tentang reproduksi dan seks yang
benar, diharapkan remaja bisa mencegah resiko dari hubungan seksual
yang dilakukan. Menurut dr. Dyan, remaja sebaiknya memiliki cara
berpikir dan prinsip bahwa mereka tahu apa yang mereka lakukan dan
mereka memang mau melakukan dengan kesadaran penuh. ”Artinya kalau
dilakukan dengan sengaja berarti mereka tahu resikonya, yakni terkena
penyakit menular seksual, atau mereka yang perempuan mungkin bisa
hamil,” tegas dokter yang lahir pada 4 Oktober 1965 ini. Hamil dan
aborsi adalah isu yang diajarkan pada pendidikan seks remaja. Remaja
yang pernah melakukan hubungan seksual cenderung mencari solusi
sendiri dan bukan pergi ke dokter. Perilaku untuk mencari
pengobatannya (treatment seeking behaviour) yang buruk ini membuat
angka kejadian Penyakit Menular Seksual (PMS) pada usia remaja
meningkat.
Orang tua juga memiliki peran penting untuk
mendidik anaknya melalui wawasan, informasi mengenai seksual. “Menurut
saya sudah waktunya seks edukasi masuk di sekolah, orang tua juga
perlu diberikan seks edukasi. Harapan saya di sekolah ada sesi khusus
untuk orang tua sendiri. Meski tak masuk dalam kurikulum inti bisa
menjadi muatan lokal,” ujar dr. Dyan.Tika
Baca Sebelumnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar